Sartika Maharani

Batavia, 10 Januari 1930

Teruntuk Ibu,

Maaf saya pergi tanpa pamit. Saya tahu Ibu pasti khawatir. Tapi kehadiran saya di rumah hanya akan memperburuk keadaan Ibu. Saya berharap Ibu baik-baik saja di sana. Saya yakin Ibu akan lebih baik jika tidak ada saya karena keadaan saya saat ini hanya akan membuat situasi Ibu semakin sulit. Suatu saat nanti pasti ada waktunya kita akan bertemu lagi. Suatu saat nanti, Ibu pasti bisa melihat cucu ibu yang saat ini sedang saya kandung. Mungkin kepergian saya ini terasa bodoh dan seolah mementingkan diri sendiri. Tapi sebenarnya saya hanya melakukan apa yang Ibu lakukan ketika saya kecil. Melakukan apa yang Ibu pikir terbaik untuk saya. Saya pergi karena saya yakin ini adalah keputusan terbaik untuk saya dan anak saya.

 Sumber foto: Arsip KITLV

Saya tahu, sejak saya lahir, Ibu sudah menderita karena ditinggal suami yang tidak bertanggungjawab. Suami yang tidak pernah menjadi ayah untuk saya. Sejak itu pula Ibu selalu bersikap dingin kepada saya. Saya selalu berpikir apakah wajah saya begitu mirip dengannya sampai-sampai Ibu enggan untuk bersikap hangat pada saya selayaknya seorang Ibu pada anak perempuannya? Tapi saya juga tahu sikap Ibu itu adalah untuk mendidik saya agar dapat menjadi seorang perempuan yang kuat, yang tahan banting apapun keadaannya. Tapi terkadang, yang saya inginkan adalah kasih sayang dan perhatian yang hangat. Selayaknya yang diberikan William dari pertama kali kami bertemu. 

Begitu banyak pertanyaan yang sudah dan ingin saya tanyakan pada Ibu. Tapi mengetahui bagaimana Ibu hanya akan diam, saya mengurungkan niat itu. Saya merasa selama 18 tahun saya hidup, saya tidak pernah benar-benar memahami sifat Ibu. Tidak bisa mengalami hubungan yang erat antara Ibu dan anak. Padahal kita hanya hidup berdua sejak saya lahir. Begitu menyesakkan untuk saya tidak bisa mengenal Ibu. Setiap kali saya tanya asal-usul Ibu, keluarga Ibu, Ibu hanya bilang bahwa Ibu tidak lagi memiliki keluarga. Padahal saya tahu banyak surat yang dikirimkan keluarga Ibu ke rumah kita. Tapi tak pernah satu kali pun Ibu menunjukkan foto-foto atau surat-surat yang dikirimkan keluarga Ibu. Saya tahu Ibu merasa dibuang oleh keluarga besar kepada Kompeni sehingga Ibu mau tak mau mengemban panggilan “Nyai” yang hina itu. Ah..menuliskannya saja membuat saya marah, Bu. 

Rasanya perih hati ini tidak bisa memutar waktu dan mengubah takdir Ibu. Sedih rasanya saya tidak bisa membela Ibu di hadapan banyak orang. Sekarang pun hati saya hancur karena harus meninggalkan Ibu. Terlebih karena saya telah mengandung sebelum menikah secara resmi. Apa kata orang-orang nanti kalau saya tinggal bersama Ibu dengan perut membuncit? Bukankah itu jauh lebih menyakitkan ketimbang saya meninggalkan Nusantara? 

Sumber: Arsip KITLV

 

Sedari dulu, saya merasa begitu kesepian. Sekalipun Ibu selalu ada bersama saya. Tapi setelah bertemu William, kesepian itu berangsur-angsur sirna. Berganti dengan senyuman dan mata yang berbinar. Saya tahu Ibu tidak merestui hubungan kami. Saya tahu Ibu berpikir bahwa asal-usul William tidak jelas karena ia seorang pribumi yang diadopsi Europeanen. Tapi jati diri saya juga sebenarnya tidak jelas. Saya tidak pernah tahu siapa ayah saya. Ibu tidak pernah mau mengingatnya. Bahkan, Ibu tidak berusaha untuk mempertemukan kami. Saya paham betul rasa sakit hati Ibu dan tidak bisa menyalahkan Ibu karena semua sudah terjadi di masa lalu. Itu juga yang menjadi alasan saya untuk melakukan ini, karena saya ingin memulai hidup baru dan tidak terjebak di masa lalu. Saya ingin hidup baru dengan semua hal yang baru, yang saya jalani bersama William. Jati diri William untuk saya jelas. Terutama sekarang ini. Jati dirinya sebagai pasangan saya dan ayah dari anak saya membuat identitasnya amat jelas. 

Ketika Ibu membaca ini, mungkin saya sudah berada di tempat nun jauh dari rumah. Tempat yang sulit dicari. Tapi Ibu tidak perlu khawatir, saya pasti baik-baik saja. Semoga kepergian saya tidak menimbulkan lebih banyak masalah untuk Ibu. Semoga kepergian saya juga bisa membuat kita sama-sama merindukan dan mungkin membuka lembaran baru untuk hari yang lebih baik. Cepat atau lambat, kita pasti akan bertemu kembali. Saling memaafkan. Maafkan saya, Bu. Saya hanya ingin mencari setitik kebahagiaan yang sulit sekali direngkuh jika saya masih ada di Batavia. Jika memungkinkan saya akan mengirimkan surat-surat agar Ibu bisa mengetahui keadaan saya. Saya harap Ibu juga dapat mencari kebahagiaan Ibu. 

Salam,

 

Sartika Maharani